ASAL MULA CINCIN KAWIN
Cincinkawin merupakan simbol bersatunya dua manusia di dalam sebuah lembaga
pernikahan yang laksanakan secara sakral. Akan tetapi anda pasti belom tahu
kenapa harus cincin kawin yang di jadikan simbol dalam pernikahan, kenapa tidak
baju, kain, atau barang antik lainnya? Ide dari siapakah yang mengawali
munculnya cincin kawin?
CINCIN
KAWIN MENURUT WIKIPEDIA
Cincin
kawin merupakan salah satu simbol di dalam pernikahan menurut tradisi Kristen
Barat. Pertukaran cincin kawin di dalam prosesi pernikahan dilakukan pada saat
pengucapan komitmen kedua mempelai untuk menjalani kehidupan bersama. Meskipun
demikian,
cincin pernikahan bukanlah simbol utama sebab yang terpenting adalah
pengucapan komitmen antara kedua mempelai tersebut.
Pertukaran cincin pernikahan tersebut
adalah simbol sekunder yang boleh ditiadakan.
CINCIN
KAWIN DARI ABAD KE-1 SAMPAI HINGGA ABAD KE -9
Pemberian
cincin semula berasal dari upacara pertunangan Romawi sejak abad pertama
Masehi. Upacara pertunangan tersebut berisi pernyataan tentang janji untuk
menikah pada masa depan. Pada masa itu, keterlibatan tradisi setempat masih
kuat di dalam kekristenan yang tengah berkembang sehingga banyak unsur-unsur
tradisi setempat yang masuk ke dalam ritual pernikahan Kristen. Salah satu unsur
tradisi Romawi yang masuk ke dalam ritus pernikahan Kristen adalah prosesi
pertukaran
cincin kawin. Di dalam suatu garis besar tata pernikahan yang dibuat
gereja pada abad ke-9, prosesi pemasangan cincin dalam pernikahan telah
tercantum di dalamnya.
CINCIN
KAWIN DARI ABAD KE-10 SAMPAI HINGGA ABAD KE 11
Di
dalam abad ke-10 dan ke-11 terdapat penambahan di dalam prosesi pemasangan
cincin, yaitu pemasangan cincin disertai dengan pemberian berkat pada
cincin.
Mempelai pria
memasangkan cincin kepada mempelai wanita seraya berkata,”Dia (menyebutkan nama
mempelai perempuan) yang mengenakan cincin ini boleh berada di dalam damai,
kehidupan, bertumbuh di dalam kasih, dan dikaruniakan umur panjang.”
Dengan demikian seolah-olah cincin
memiliki makna dalam pernikahan sebagaimana konsekrasi roti dan anggur dalam
Ekaristi.
Gereja-gereja
Ortodoks Timur mempertahankan prosesi pertukaran
cincin kawin, seperti
pertukaran janji dan cincin di ruang depan.
Dengan demikian, jikalau pada abad
ke-10 dan ke-11 cincin menjadi simbol berkat, maka pada gereja-gereja Ortodoks
Timur, cincin menjadi simbol ikatan kedua mempelai melalui janji pernikahan.
CINCIN
KAWIN DARI ABAD KE-16 HINGGA SEKARANG
Pada
masa Reformasi Gereja, muncul rumusan lain yang berasal dari Martin Luther,
yaitu “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”.
Ibadah pernikahan di gereja-gereja Protestan Indonesia hingga kini sebagian
besar memakai rumusan ini atau yang serupa dengan ini.
Walaupun cincin banyak digunakan dalam liturgi pernikahan,
namun bukan berarti semua gereja menyetujui penggunaan cincin dalam liturgi
pernikahan. Kaum Puritan pada abad ke-17 menolak penggunaan
cincin nikah.
Mereka keberatan terhadap prosesi pertukaran cincin, dan juga unsur-unsur lain
di dalam ibadah, sehingga menghilangkan prosesi tersebut dari ibadah
pernikahan. Akan tetapi, sebagian besar unsur-unsur tersebut dipulihkan kembali
pada tahun-tahun berikutnya. Keberatan tersebut wajar mengingat tujuan mereka
adalah “memurnikan” Gereja Inggris pada saat itu dengan cara menyingkirkan
segala hal yang berbau Romawi. Pada abad ke-18, John Wesley juga menghapus
ritus penyerahan mempelai dan pemberian cincin. Akan tetapi, para penerus John
Wesley memulihkan kedua ritus tersebut.
FUNGSI
CINCIN KAWIN SEBAGAI SIMBOLIK
Simbol
berfungsi menghadirkan masa lalu pada masa kini. Dengan demikian, melalui
cincin kawin pasangan suami-istri dapat mengingat cinta yang terjalin dan makna
pernikahan yang telah mereka jalani.
Cincin kawin unik tidak menjamin cinta dan kesetiaan
suami-istri, namun cincin pernikahan menjadi simbol yang senantiasa
mengingatkan dan membahasakan kerinduan mereka untuk selalu memperdalam cinta
kepada pasangannya. Secara populer ada makna-makna lain yang diberikan kepada
cincin kawin, misalnya sebagai penanda akan status pemakainya selaku
suami-istri, atau perlambang ikatan pernikahan yang tiada akhirnya seperti
bentuk cincin yang bulat dan tak berujung.
Seorang
perancang busana pernikahan menyebutkan dalam bukunya
Wedding Inspiration, ide awal cincin
kawin berasal sejak manusia tinggal di dalam gua. Konon, di zaman itu, para
pria akan melingkarkan jalinan rumput, kulit, tulang, bahkan gading pada kaki
sang istri, kegiatan ini dipercaya bisa mengikat roh sang wanita.
Kemudian
bangsa Mesir mulai menggunakan
cincin pernikahan yang dilingkarkan di jari, kemudian
disempurnakan oleh bangsa Yahudi yang menggunakan emas polos sebagai cincin
kawin. Semakin berkembang, barulah Archduke Maximillian dari Austria
menggunakan berlian sebagai tanda ikatan pertunangan dengan Mary of Burgundy,
pada tahun 1477, dan menjadi sangat populer di kalangan pasangan pengantin
hingga sekarang.
Mengapa
cincin? Konon karena bentuk cincin yang melingkar sempurna menyimbolkan cinta
yang tak berujung, tak berawal, dan tak berakhir. Sementara warna emas, yang
sering digunakan, merupakan simbol cinta yang tak lekang dimakan waktu, abadi,
suci, dan kuat.
Saat
mencari cincin kawin, Tina Andrean menyarankan untuk Anda memerhatikan 3 hal,
yakni; karat dan kejernihan, bentuk, dan potongan juga warna. Untuk penentuan
karat dan kejernihan, sebaiknya Anda memerhatikan seksama kualitas batu mulia
yang digunakan. Ukuran dan bentuk batu mulia yang digunakan pada cincin akan
mempengaruhi kejernihannya. Berlian berbentuk bulat adalah bentuk yang paling
populer. Sebagai alternatif, bentuk geometris lain bisa dipilih untuk memberi
kesan fashionable. Potongan batu mulia yang tepat akan membuat cincin nikah
berkilau indah. Semakin jernih dan putih warnanya, makin tinggi nilainya.
Sebelum
membeli
cincin kawin, pertimbangkan ukuran dan gaya yang diinginkan oleh Anda
dan pasangan. Sesuaikan dengan dana Anda. Jangan lupa untuk berkonsultasi
dengan ahli perhiasan untuk memastikan cincin kawin yang Anda beli adalah yang
berkualitas. Saat ini cincin kawin tak lagi harus selalu berwarna emas kuning.
Banyak pasangan yang menggunakan emas putih, gradasi warna emas, seperti hijau
atau kekuningan.
Bagi anda yang ingin memesan cincin kawin dengan menggunakan jasa kami, silahkan kontak kami di bawah ini.
Head
Office :
Jl. Nurul Hikmah 1, no. 63, Rt/Rw: 006/011, Kelapa Dua, Kel. Tugu, Kec.
Cimanggis, Depok-Jawa Barat 16951 ( Deket Brimob Kelapa Dua-Depok-Jawa Barat ).
Kontak Resmi Kami :
Whatsapp = 0857-8115-8585
Pin BBM = 59663D00
Instagram = pabrikcincinnikah
Line = pabrikcincinnikah
Kunjungi kami :